greglakesatisfied

sujeneng


Unspeakable nothing

film, fiksi, musik, blablabla


Sujeneng is a Javanese Shakespearean name
greglakesatisfied
sujeneng
Sujeneng is a Javanese Shakespearean name.

It's true. "Su" means good, and "jeneng" means name. What can be inferred about that name? It brags about nothing. Being good but not beautiful, nor excellent. And in Javanese, the "Su" is deleteable, as the prefix comes as a mere convention. Thus, "jeneng" is all that left.
What's in a name. A "jeneng" would mean as humble as it's called by any other name.
It's lame. I know. Haha.

Anyway, thanks for visiting me. I'll try to share my thoughts on film and fictions in this humble site. Maybe I'll write about other things, such as books, music or dance. Or life. Or whatever comes to mind.
So, enjoy your visit... and virtual cookies for those who leave comments ^.^


...this could be goodbye...
greglakesatisfied
sujeneng
Aku mulai ragu untuk meneruskan blog ini. Tadinya blog ini banyak berisi fangirling kan. Setelah fase heboh fangirling berlalu, arah tulisan di sini jadi nggak jelas. Aku bingung. Mau nulis yang lebih berat (bagiku) dan ingin dibaca oleh kalangan yang lain, kayaknya kok LJ ini rada suram harapannya. Hehe maaf. Aku rada was-was LJ makin surut dan lama-lama jadi kayak angelfire, misalnya :O

Aku udah bikin blog di wordpress, tapi masih kosong melompong. Mungkin nantinya aku akan pindah ke sana, menuliskan entah apa –kegelisahanku atau sekedar cas cis cus gak jelas- dan menyalin sebagian tulisan dari sini ke sana. Tulisan yang berguna aja sih, misalnya tentang review kolam renang. Siapa tahu ada yang mampir dan mendapat manfaat dari tulisanku, meskipun manfaat itu sekedar ngilangin bête nunggu tukang bakso langganan yang gak kunjung lewat :D Makanya aku ingin pindah ke tempat yang lebih bisa menjangkau dan dijangkau (dikenal) banyak orang, misalnya wordpress.

Well, see you there ^_^
Tags: ,

Review Kolam Renang di Jogja – bagi kamu yang takut air
greglakesatisfied
sujeneng
Menyambung entry sebelumnya nih…

Biar blog-ku rada berguna dikit, aku unggah tulisan tentang kolam-kolam renang di kota Jogja. Masih terkait erat dengan belajar renang, tapi yang udah jago renang juga boleh baca kok. Bagi yang sedang belajar renang, apalagi belajar dengan guru, sekali-kali perlu juga berenang sendiri –alias tanpa guru, kalo sama temen juga boleh. Nah, sebelum berenang sendiri, perenang pemula perlu kolam renang yang cocok. Artinya, jangan sampai wujud dan kedalaman kolam renang membuatmu jiper duluan.

Aku jamin kedalaman kolam yang kuberi rate tinggi di sini pasti aman buat pemula. Kenapa? Karena aku pendek, hehehe. Selain kedalaman kolam, ada beberapa indikator lain ‘keramahan’ kolam renang bagi pemula yang takut air. Ini indikator-indikator versiku:
aman jika...Collapse )

Aku dan Air Sudah Berkawan, tapi Belum Pacaran
greglakesatisfied
sujeneng
Entry ini tentang renang. Tumben kan aku posting soal yang ada kaitannya dengan olah raga. Kenapa? Karena sekarang aku belajar berenang. Kenapa belajar renang (di usia tua ini)? Well, karena renang tidak kenal usia. Hehehe. Alasan yang paling kuat sih sebenarnya karena prasyarat berenang itu adalah ketenangan. Supaya bisa berenang –dengan teknik yang benar- pertama-tama harus tenang, sangat rileks, dan pasrah dan percaya pada air. Air jangan dilawan, tapi disambut dan diajak berkawan. Aspek itu semacam meditative, setidaknya bagiku.

Read more...Collapse )

tidak ada judul
greglakesatisfied
sujeneng
ada masa aku suka menulis fiksi. ya fanfic, ya orific. begadang mengetik cerita sampe subuh, itu sudah biasa. browsing kiat-kiat menulis, juga rutin. terbayang-bayang suatu plot untuk suatu cerita dengan karakter anu dan anu, ...ah, itu sih setiap saat. saat makan, naik motor di jalan, nongkrong di wc, di mana-mana lah...

ada masanya aku jadi fangirl. setiap hari fangirling saja kerjaku. bangun tidur, nyalain internet buat browsing berita, foto, video, gosip, apapun tentang band anu atau si X. obyek fangirlingku selalu nampak super keren dan tak habis-habisnya membangkitkan ide cerita -biasanya agak mesum, sedikiiiit romantis, dan lucu yg dipaksakan- bagiku.

ada kalanya aku suka banget (belajar) menari. hari selasa dan kamis belajar nari di sanggar X. jumat dan minggu di sanggar Y. gak ada kemajuan. gak jadi lebih luwes menari, gak ada tawaran pentas juga. tapi aku tetep semangat. pulang latihan, browsing di youtube dan download video-video tari. ke toko kaset buat beli kaset-kaset dan VCD tari.

ada kalanya aku ngebet belajar gitar. rajin nonton video tutorial gitar di youtube, belajar baca not balok buat gitar. dalam seminggu, ada beberapa hari aku bermain-main dengan dawai gitar. tapi yah... cuma betah sepuluh menitan. lebih dari itu, rasanya sudah kepingin membanting gitar dan membakarnya (siapa tahu jadi kerasukan arwah Jimi Hendrix dan jago nggitar dalam lima menit? hehe). merasa tidak ada insentif (peningkatan skill walau cuma sedikit) sama sekali dari upaya itu, aku mutung. sudah bisa ditebak.

ada saatnya aku kebelet belajar body painting. membeli eyeliner 7 warna, eyeshadow padat, dan mungkin nantinya cat beneran. browsing desain apa saja yang bisa kucoba pindahkan ke kulit. menggambari tangan dan kaki tiap ada waktu, dengan hasil gambar yang menyedihkan bagi kesehatan selera visual. dengan kualitas yang menggelikan ini, apa mungkin aku menemukan kanvas yang bersedia kugambari?

ada masanya minat itu surut, digantikan yang lain. tak ada minat yang bertahan sangat lama, paling lama lima tahun. aku masih seperti anak kecil, melompat dari kesenangan satu ke kesenangan lain. tidak pernah benar-benar menekuni, apalagi menguasai ---eh, itu istilah yang agak kurang ajar sih- membuatnya merasuk ke aliran darahku, menyatukannya dengan nyawaku.
lebay ah bahasanya. hahaha...

yeah. dunia ini fana. kesenangan apalagi, lebih fana dari fana.

art is a bang, kalo kata Deidara. heheheh~

#nama
emmafrost
sujeneng
Nama itu penting sekali. #PersetanShakespeare

Aku berlangganan koran minggu, hanya edisi minggu, terutama karena butuh membaca cerpen-cerpennya. Sebutlah aku penggemar sastra koran, karena sastra yang kukenal pertama kali ya cerpen-cerpen koran itu. Tapi aku nggak bakal cerita soal sastra kok. Aku nggak kompeten soal itu :D

Bukan berarti aku berlangganan dan membaca semua koran edisi minggu. Aku cuma berlangganan Kompas dan Korantempo. Sejak muda aku membaca cerpen Kompas. Nggak semua cerpen yang dimuat itu bagus. Kadang biasa banget dan nggak ada nilai lebihnya, setidaknya bagi pembaca awam seperti aku. Kalau cerpen kurang bagus (eufemisme dari jelek) itu karya penulis yang nggak terkenal sih, okelah. Aku lalu mencari kelebihan cerpen itu (oh kental dengan detil-detil lokal, misalnya). Tapi kalau cerpen yang tanpa nilai lebih itu adalah karya penulis terkenal, yah… apa boleh buat. Aku nggak bisa memikirkan kemungkinan alasan lain selain nama penulis yang tersohor. Kalau cerpen sejelek itu ditulis oleh seorang Sujeneng atau siapalah, dan bukan seorang Sitok Srengenge atau Marselli, misalnya, apa Kompas bakal mau memuatnya?

Nama itu penting sekali.

Seorang teman yang beberapa kali naskahnya ditolak penerbit mengingatkan hal itu. Aku pernah usul supaya dia mencoba  jalur penerbit indie, tentu saja kalau kebetulan punya uang cukup. Saya butuh ‘nama’ dulu, jawabnya. Dengan penerbit besar, novel dan penulisnya akan punya 'nama'. Penerbit besar yang akan berusaha mewartakan keberadaan buku dan mengangkat nama penulisnya. Beda dengan menerbitkan buku lewat jalur indie. Penulis sendiri yang harus berjuang untuk punya ‘nama’.

Nama itu penting sekali.

Sebuah penerbit yang sepertinya cukup terkenal sadar betul soal itu. Nama penulis bakal mendongkrak angka penjualan buku, entah sekancrut apapun kualitas buku itu. So, si penerbit itu meminta penulis agar punya ‘nama’ dulu, baru bukunya bisa mereka terbitkan. Aku membaca kisah ini dari cuit-cuit si penulis di twitter. Penulis yang keukeuh merahasiakan nama penerbit itu bercerita: si penerbit bilang akan menerbitkan naskahnya kalau si penulis sudah punya 200.000 followers di twitter. Penerbit punya duit dan jaringan. Penerbit butuh naskah (yang nggak harus bagus) dan ‘nama’ penulis. Nggak perlu bikin tulisan bagus-bagus, yang penting kamu populer. Begitulah kira-kira.
Lalu bagaimana nasib penulis buku yang (anggaplah) pemula, yang tidak suka menghabiskan banyak waktu di jejaring sosial, sehingga nggak punya banyak followers di twitter atau facebook? Mau menerbitkan buku lewat jalur penerbitan indie,  dia harus punya uang dulu lalu berjuang mencari ‘nama’. Mau bukunya diterbitkan oleh penerbit besar (ya mungkin ini cuma kasusnya penerbit yang ‘itu’ doang sih), dia harus punya ‘nama’ dulu. ‘Nama’ yang lebih besar daripada yang dibutuhkan kalau dia memilih jalur indie.

Huffft.

Nama itu memang penting. Penting sekali.
-_-
Tags: ,

Imutisasi dalam Berbahasa Indonesia
toughlady
sujeneng
Kali ini judulnya rada catchy, walau agak ngaco dan nggak imut. Oke langsung saja ke pokok persoalan. Bukan karena saya orang yang lugas, tapi lebih karena saya nggak punya banyak ide yang bisa dibiakkan menjadi ribuan kata. (silakan hitung berapa kata yang ada dalam entry ini :D)

Imutisasi terdiri dari kata dasar “imut” dan imbuhan “-isasi”, yang merupakan imbuhan serapan dari bahasa enggres “-ization”, yang menerangkan proses pembentukan sesuatu menjadi kata dasarnya. Jadi, “imutisasi” adalah proses mengimutkan –dalam hal ini, mengimutkan bahasa. Oke, penjelasannya segitu saja. Kalau panjang-panjang, nanti malah ketahuan kalau saya nggak kompeten di bidang bahasa :D

Langsung ke contoh.

“Ini baju aku
“Ciyus? Miapah?”

ciyus?Collapse )

ngoceh edisi harian
shocked
sujeneng
akhir-akhir ini aku mulai agak genit. #yaelah
maksudnya aku pengen eksistensi di blog bisa mengundang interaksi dengan pembaca *bilang aja fakir komen gitu :p*
untuk itu, perlu wadah yang tepat kan. aku nggak tahu banyak tentang livejournal. aku bikin akun di sini karena ikut-ikutan teman-teman infantrum  saja :) sependek pengamatanku, livejournal itu cenderung berisi catatan harian kayak diary gitu (yah namanya juga live journal: buku harian daring) sedangkan situs-situs yang ngaku buat blog beneran kayaknya gak gitu-gitu amat deh <--- ini maksudnya apaaaaa?
kalo aku pengen posting pendapat dan analisa abal-abal tentang suatu hal, aku merasa rada kurang pas kalo ditaruh di sini. mungkin lebih tepat ditaruh di blogspot, wordpress, dsb. aku punya akun wordpress tapi sejauh ini cuma dipakai buat follow akun-akun blogger yang serius. dan setelah beberapa kali post komentar ke mereka, aku jadi kepikiran untuk memberdayakan akun wordpressku.
lagipula aku hampir nggak pernah lagi bikin post dalam bahasa enggres di sini.

tapi...sampai saat ini aku juga belum bikin tulisan yg isinya essay (ya pokoknya yang rada serius gitu), walau banyak hal (belum jadi ide) yang berloncatan lemah di kepala. paling banter ya aku nulis curhat kayak gini.
dan inilah gunanya livejournal kan.... :)

Akibat Membayar Kado Ulang Tahunku
greglakesatisfied
sujeneng
Padahal aku udah niat bakal posting entry yg bukan semacam copas diary. Tapi lagi-lagi kulanggar. Abis gimana lagi? Band yang aku suka tampil di hari ulang tahunku. Pasti aku kegirangan dong. Bahkan aku merasa dikasih kado. Padahal mbayar (tiket) hahaha. Mari merapat sini, akan kubagi kebahagiaanku.

Alkisah, pada 2 Juni 2013, Efek Rumah Kaca (ERK) menjadi band tamu di acara Earthernity Festival, di Pusat Kebudayaan Koesnadi Harjosumantri, UGM. Tiket Rp 25.000 dapet teh botol dan diskon nonton di Moviebox (bah. segala merek disebut). Aku datang awal, kuatir kalo kehabisan tiket. Pada malam yang sama, band kawan2ku bernama 6.00 (@sixoclockband), sebuah tribute band Dream Theater, manggung juga tidak jauh dari situ. Sembari nonton band-band pembuka, aku sms-an dengan personil 6.00, nanya2 lokasi. Aku berharap bisa nonton mereka, nanti setelah ERK selesai main. Itu harapan yg berlebihan deh. Lha jam 21.30, saat jadwal 6.00 main, panggung yang kutonton masih diisi band-band pembuka. Ada dua band yang cukup menarik, Archiblues dan AATPSC. Archiblues menarik karena mereka main musik blues. Itu doang alasannya :D Yah di konser yang kebanyakan penontonnya anak muda gaul seperti malam itu, jarang-jarang ada band yang mainin blues. Dan ya, aku lumayan suka blues :) Band AATPSC memainkan musik folk polska, ato apalah namanya. Lumayan enak dinikmati. Tapi yang terutama bikin enak adalah karena aku barusan follow twitter salah satu personilnya (krn dia pernah ngetwit soal review musik) dan kayaknya mereka cukup ngetop :D Penonton yang tadinya duduk lesehan, trus bergerak maju sewaktu band itu tampil. Aku ikutan maju dong...sadar diri kalo pendek :D

Nah, masalah posisi ini penting!penting?Collapse )

Dua versi cerpen Samsara :)
jf_ayu
sujeneng
Beberapa minggu lalu, @bintangberkisah mengadakan proyek #menulisduet. Dia mengundang siapa saja untuk mengirim minimal 6 halaman pertama dari cerpen mereka, lalu akan dilanjutkan olehnya. Aku tertarik. Aku tanya, ‘kalau cerpen aslinya sudah jadi, boleh ikutan nggak? Aku cuma penasaran seperti apa @bintangberkisah menggarap ending cerpenku.’ Dia setuju. Lalu aku kirimkan cerpen Samsara. Dan di Sabtu kemarin, tadaaaa… datanglah Samsara versi kedua.

Ini adalah cerpen aslinya, tulisanku sendiri:
s a m s a r a
atau lebih enak dibaca di:
SAMSARA

Ini adalah cerpen hasil #menulisduet dengan @bintangberkisah
Samsara/

Aku pikir, mungkin asik juga kalo sekali-kali latihan menulis dengan cara begini. Ambil cerpen/novel orang, baca sekian alinea, lalu tutup. Lanjutkan sendiri kisahnya. Atau sebaliknya, baca alinea terakhir doang, lalu bikin cerita awal, tengah, sampai menuju ending itu.
(masalahnya aku males latihan :D)

Akhir kata… Selamat membaca!
(dan nulis komentar ya ^^)

?

Log in